MAKALAH
AUDITING II
AUDIT
BERBASIS RISIKO
Makalah
Ini Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Auditing II
Dosen
Pengampu : Andhika Satriya Wicaksana.
SE., Akt

Disusun
Oleh :
NAMA
: FITRI LISTIANI
NPM : 1294998
KELAS
: D3 PBS A
PRODY
D3 PERBANKAN SYARIAH JURUSAN SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM STAIN JURAI SIWO METRO
LAMPUNG
TP
: 2014/2015
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kepada
Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayahnya makalah yang berjudul AUDIT BERBASIS RISIKO ini dapat
diselesaikan tanpa hambatan suatu apapun.
Makalah ini merupakan salah satu
tugas mata kuliah Auditing II di STAIN JURAI SIWO METRO. Penulis menyadari
bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat berbagai kekurangan, maka
dari itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembacanya.
Semoga makalah ini dapat memberi
manfaat kepada pembaca, serta menambah wawasan dan ilmu tentang auditing
berbasis risiko.
Metro, Oktober
2014
Penyusun
DAFTAR
ISI
HALAMAN
DEPAN................................................................................. i
KATA
PENGANTAR.............................................................................. ii
DAFTAR
ISI.............................................................................................. iii
BAB
I PENDAHULUAN......................................................................... 1
A. Latar
Belakang............................................................................... 1
B. Rumusan
Masalah.......................................................................... 2
C. Tujuan............................................................................................ 2
BAB
II PEMBAHASAN........................................................................... 3
A. Pengertian
Audit............................................................................ 3
B. Pengertian
Risiko........................................................................... 5
C. Pengertian
Audit Berbasis Risiko.................................................. 6
D. Proses
Audit Berbasis Risiko( Auditing berbasis ISA) ............... 9
BAB
III KESIMPULAN........................................................................... 11
DAFTAR
PUSTAKA............................................................................... 13
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu
hal yang memegang peranan penting dalam meningkatkan kinerja dari sebuah
perusahaan adalah adanya peranan efektif dan efisien dari Satuan Pengendalian
Internal atau yang sering disebut dengan Internal Audit. Pemahaman yang
mendalam akan sebuah proses, teknik serta langkah-langkah dalam melakukan
proses audit akan memberi dampak yang positif bagi perusahaan terutama dalam
meminimalkan suatu resiko yang akan dihadapi oleh perusahaan.
Internal
auditor diharapkan mampu melaksanakan audit secara efektif dan efisien. Sumber
daya yang terbatas yang digunakan seharusnya mampu dikelola sedemikian rupa
sehingga tujuan audit yang telah ditetapkan. Hal ini berarti internal auditor
harus mendahulukan pengujian dan observasi pada aktivitas yang dinilai berisiko
tinggi, tidak ‘terjebak’ pada rutinitas dan kegiatan yang kurang berisiko.
Juga, internal auditor harus mampu mengidentifikasi risiko-risiko yang dihadapi
perusahaan telah cukup diantisipasi dan dimitigasi oleh perusahaan. Dengan
melakukan audit berbasis risiko, diharapkan para internal auditor mampu
mengatasi kelemahan-kelemahan yang dihadapi terkait dengan perencanaan tahunan
audit dan melaksanakan pengujian-pengujian audit secara lebih efektif dan
efsien.
Peranan
Internal Auditor dengan fokus utama pengendalian atau control pada perusahaan
saat ini sudah tidak memadai lagi. Kelemahan utama yang muncul adalah
perencanaan audit yang tidak efektif dikaitkan dengan pencapaian misi
perusahaan. Umumnya perencanaan audit disusun tidak melalui suatu basis yang
memadai, melainkan hanya berdasarkan penilaian subyektif belaka. Kerap terjadi
auditee yang berisiko tinggi justru tidak mendapatkan perhatian penuh dari
internal audit dan sebaliknya, audit justru dilakukan pada auditee yang relatif
kurang berisiko. Sehubungan dengan hal tersebut kami menawarkan suatu
program yang akan memberikan nilai tambah bagi SDM Perusahaan yang tentunya
akan memberikan nilai positif juga bagi perusahaan.
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana Pengertian Audit ?
2.
Bagaimana Pengertian Risiko ?
3.
Bagaimana Pengertian Audit Berbasis
Risiko ?
4.
Bagaimana Proses Audit Berbasis Risiko ( Auditing berbasis ISA) ?
C. Tujuan
1.
Untuk mengetahui Pengertian Audit,
2.
Untuk mengetahui Pengertian Risiko,
3.
Untuk mengetahui Pengertian Audit
Berbasis Risiko,
4.
Untuk mengetahui Proses Audit Berbasis
Risiko ( Auditing berbasis ISA).
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Audit
Berikut ini beberapa pendapat para pakar mengenai definisi auditing yang
berkembang saat ini :
“Suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis,
oleh pihak yang independen, terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh
pihak manajemen beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya,
dengan tujuan untuk dapat memberikan pedapat mengenai laporan kewajaran laporan
keuangan tersebut”.
Menurut Arens and Loebbecke (Auditing: An
Integrated Approach, eight edition, 2000:9), [2]
Audit adalah kegiatan mengumpulkan dan mengevaluasi dari bukti-bukti
mengenai informasi untuk menentukan dan melaporkan tingkat kesesuaian antara informasi
dengan kriteria yang telah ditetapkan. Proses audit harus dilakukan oleh orang
yang kompeten dan independent
Menurut William F. Meisser, Jr (Auditing and
Assurance Service, A Systematic Approach, 2003:8) [3]
Audit adalah proses yang sistematik dengan tujuan mengevaluasi bukti
mengenai tindakan dan kejadian ekonomi untuk memastikan tingkat kesesuaian
antara penugasan dan kriteria yang telah ditetapkan, hasil dari penugasan
tersebut dikomunikasikan kepada pihak pengguna yang berkepentingan.
Jadi audit itu sendiri artinya adalah suatu kegiatan yang dilakukan guna
memeriksa dan memastikan suatu informasi tentang laporan keuangan untuk
memastikan kewajaran dari laporan keuangan tersebut.
Tujuan audit
secara umum dapat diklasifikasilkan sebagai berikut :
1.
Kelengkapan (Completeness). Untuk
meyakinkan bahwa seluruh transaksi telah dicatat atau ada dalam jurnal secara
aktual telah dimasukkan.
2.
Ketepatan (Accurancy). Untuk
memastikan transaksi dan saldo perkiraan yang ada telah dicatat berdasarkan
jumlah yang benar, perhitungan yang benar, diklasifikasikan, dan dicatat dengan
tepat.
3.
Eksistensi (Existence). Untuk
memastikan bahwa semua harta dan kewajiban yang tercatat memiliki eksistensi
atau keterjadian pada tanggal tertentu, jadi transaksi tercatat tersebut harus
benar-benar telah terjadi dan tidak fiktif.
4.
Penilaian (Valuation). Untuk
memastikan bahwa prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum telah diterapkan
dengan benar.
5.
Klasifikasi (Classification). Untuk
memastikan bahwa transaksi yang dicantumkan dalam jurnal diklasifikasikan
dengan tepat. Jika terkait dengan saldo maka angka-angka yang dimasukkan
didaftar klien telah diklasifikasikan dengan tepat.
6.
Ketepatan (Accurancy). Untuk
memastikan bahwa semua transaksi dicatat pada tanggal yang benar, rincian dalam
saldo akun sesuai dengan angka-angka buku besar. Serta penjumlahan saldo sudah
dilakukan dengan tepat.
7.
Pisah Batas (Cut-Off). Untuk
memastikan bahwa transaksi-transaksi yang dekat tanggal neraca dicatat dalam
periode yang tepat. Transaksi yang mungkin sekali salah saji adalah transaksi
yang dicatat mendekati akhir suatu peride akuntansi.
8.
Pengungkapan (Disclosure). Untuk
meyakinkan bahwa saldo akun dan persyaratan pengungkapan yang berkaitan telah
disajikan dengan wajar dalam laporan keuangan dan dijelaskan dengan wajar dalam
isi dan catatan kaki laporan tersebut.
B.
Pengertian
Risiko
Berikut
beberapa pengertian risiko yang disampaikan oleh beberapa ahli:[4]
1.
Risiko adalah suatu variasi dari hasil-hasil yang dapat terjadi selama periode
tertentu (Arthur Williams dan Richard, MH.).
2.
Risiko adalah ketidaktentuan/uncertainty yang mungkin melahirkan peristiwa
kerugian/loss (A. Abas Salim).
3.
Risiko adalah ketidak pastian atas terjadinya suatu peristiwa (Soekarta)
4.
Risiko merupakan penyebaran/penyimpangan hasil aktual dari hasil yang
diharapkan (Herman Darmawi)
5.
Risiko adalah probabilitas sesuatu hasil/outcome yang berbeda dengan yang
diharapkan (Herman Darmawi).
Jadi risiko
adalah suatu ketidakpastian/konsekuensi
yang dapat terjadi akibat suatu peristiwa yang terjadi sekarang atau pada waktu
yang akan datang.
Pengertian
Resiko-Risiko :
1.
Audit Risk ‘ resiko auditor mengeluarkan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian padahal
dalam laporan tersebut terdapat salah saji yang material.
2.
Inherent
risk adalah kemungkinan suatu asersi mengandung salah saji
material dengan asumsi tidak ada pengendalian
3.
Control risk adalah resiko ada salah saji material dalam asersi yang tidak dapat dicegah atau ditemukan secara tepat waktu oleh pengendalian
internal entitas
4.
Detection risk detection risk : resiko
auditor untuk tidak menemukan salah saji (yang sebenarnya ada) setelah
melakukan prosedur audit.
5.
Business
Risk : potensi terjadinya suatu peristiwa, tindakan, atau tidak dilakukannya
tindakan, yang mengakibatkan klien gagal untuk memenuhi tujuan usahanya
(business objectives), atau gagal dalam mengidentifikasi tujuan usaha yang
diharapkan oleh stakeholder utama.
Resiko
bisnis terkait dengan resiko inheren dan resiko pengendalian klien, dalam banyak kasus resiko bisnis
yang tinggi = resiko inheren yang tinggi dan resiko bisnis yang tinggi = resiko
pengendalian yang tinggi. Jika auditor
bisa mengindetifikasi resiko bisnis, maka auditor bisa mengelola resiko
audit dengan lebih baik dan hal itu akan memberikan
manfaat lebih (add value) kepada klien
C. Pengertian Audit Berbasis Risiko
Audit
Berbasis Resiko atau Risk Based Audit (RBA) merupakan pendekatan audit yang
berkembang pesat sejak tahun 2000an. Pendekatan ini saat ini mendapatkan perhatian
yang luas dan dianggap sebagai pendekatan yang paling efektif karena terbukti
paling cocok diterapkan untuk kondisi lingkungan bisnis yang selalu
berubah-ubah seperti sekarang ini. Indonesia telah meratifikasi ketentuan untuk
menerapkan International Standards on Auditing (ISA) mulai awal tahun 2013. ISA
sepenuhnya mengadopsi pendekatan Audit Berbasis Resiko, sehingga saat ini
penerapan Audit Berbasis Resiko bagi auditor di Indonesia menjadi hal wajib
(mandatory).[5]
Based
Internal Audit (RBIA) atau Audit Berbasis Risiko merupakan metodologi yang
memastikan bahwa manajemen risiko sudah dilakukan sesuai dengan risk
appetite yang dimiliki organisasi. Pendekatan audit ini berfokus dalam
mengevaluasi risiko-risiko baik strategis, finansial, operasional,
regulasi dan lainnya yang dihadapi oleh organisasi. Dalam RBIA, risiko-risiko yang tinggi diaudit, sehingga
kemudian manajemen bisa mengetahui area baru mana yang berisiko dan area mana
yang kontrolnya harus diperbaiki.
Tujuannya
adalah memberikan keyakinan kepada komite Audit Dewan Komisaris dan Direksi
bahwa Perusahaan telah memiliki proses manajemen risiko dan proses
tersebut telah dirancang dengan baik. Proses manajemen risiko telah diintegrasikan
oleh manajemen ke dalam semua tingkatan organisasi mulai tingkat korporasi
divisi sampai unit kerja terkecil dan telah berfungsi dengan baik. Kerangka
kerja internal dan tata kelola yang baik telah tersedia secara cukup dan
berfungsi dengan baik guna mengendalikan risiko.
Audit berbasis resiko lebih berupa perubahan pola pandang dari pada sebuah
teknik. Memakai kacamata audit berbasis resiko auditor harus menilai kemampuan
manajemen dalam mengukur resiko, merespon resiko dan melaporkan resiko. Apabila
manajemen memiliki kemampuan yang cukup dalam mengukur, merespon dan melaporkan
resiko dalam suatu area atau proses, maka resiko bawaan bisa diturunkan.
Artinya auditor tidak harus meningkatkan tingkat ketelitian, menambah prosedur
atau menambahkan waktu analisa. Sebaliknya kalau manajemen resiko klien buruk,
maka auditor harus meningkatkan keteliatian, menambah prosedur dan menambahkan
waktu analisa. Sehingga bobot atau score resiko di masing-masing area atau
proses tersebut bisa dijadikan sebagai salah satu dasar untuk penentuan
prioritas audit oleh auditor.[6]
Penentuan prioritas berdasarkan
analisa resiko ini dianggap paling tepat dalam upaya mengalokasikan waktu dan
staff auditor yang terbatas. Audit menggunakan sampling, dan selama ini
metodologi audit mengatur bagaimana pengambilan sampling yang paling efektif
dan efisien. Efektif dalam arti sample yang diambil tersebut haruslah mampu
mewakili populasi yang akan diperiksa.
Audit Berbasis Risiko adalah metodologi
pemeriksaan yang dipergunakan untuk memberikan jaminan bahwa risiko telah dikelola di dalam batasan risiko
yang telah ditetapkan manajemen pada tingkatan korporasi.
Ada 2 hal
utama yang harus dipahami oleh internal auditor:
1.
Aspek pengendalian dari setiap proses bisnis yang
terkait
2.
Risiko dan faktor-faktor pengendalian guna mendukung
pencapaian sasaran perusahaan
Peranan
internal auditor dalam praktik audit berbasis risiko antara lain:[7]
1.
MULAI dari
memfokuskan pekerjaan audit pada risiko signifikan korporasi, yang telah
diidentifikasi oleh fungsi manajemen risiko korporasi dan melakukan audit atas
proses manajemen risiko lintas organisasi guna memastikan pengelolaan risiko
yang telah teridentifikasi
2.
UNTUK berperan
aktif sebagai konsultan internal yang melakukan training dan edukasi bagi staf
lini dalam memastikan efektivitas pengendalian internal
3.
UNTUK memberikan
dukungan dan partisipasi aktif dalam proses pengendalian internal perusahaan
4.
UNTUK melalukan
koordinasi pelaporan audit berbasis risiko kepada Direksi dan Dewan Komisaris,
dan Komite Audit
Auditor sekarang dituntut tidak hanya memberikan keyakinan memadai terkait
kewajaran laporan keuangan, tetapi juga memberikan penilaian terhadap
keberlanjutan (going concern) perusahaan untuk paling tidak setahun kedepan.
Pendekatan lama auditor yang hanya berbasis transaksi ataupun siklus saat ini
dipandang tidak cukup untuk memberikan tingkat keyakinan memadai terhadap
kewajaran laporang keuangan.
Sebagai contoh, ketika persaingan semakin ketat dan situasi ekonomi sedang
krisis, disisi lain manajemen dituntut untuk terus meningkatkan performa maka
dorongan untuk terjadinya kecurangan keuangan menjadi sangat besar. Sehingga
resiko yang harus ditanggung auditor untuk terjadinya salah memberikan
opini juga meningkat. Sehingga auditor perlu melakukan modifikasi-modifikasi
terkait strategi audit maupun prosedur-prosedur yang dijalankan sehingga bisa
meminimalisir terjadinya salah pemberian opini tersebut.
Proses audit ini didasarkan ISA atau International Standards on Auditing.
ISA menekankan berbagai kewajiban entitas dan manajemen, berbagai kewajiban entitas dapat disebut
pihak-pihak berkepentingan atau TCWG “Those charged with governance”. Proses audit berbasis ISA merupakan proses
audit berbasis risiko yang mengandung tiga langkah kunci yaitu Risk Assessment
(Penialain Risiko), Risk Response (Merespon Risiko) dan Report (Pelaporan),[9]
tiga langkah Audit Berbasis Risiko yaitu :[10]
1.
Tahap Penjelasan Risk Assessment
Penilaian
risiko untuk mengidentifikasi dan menilai risiko salah saji material dalam
laporan keuangan, merancang dan melaksanakan prosedur audit selanjutnya untuk
menanggapi risiko salah saji.
a.
Partner dan Tim inti audit terlibat aktif dalam audit
plan.
b.
Skeptisisme Profesional dalam upaya mencapai asurans
yang layak
c.
Rencanakan auditnya mencakup waktu dalam audit plan
akan memastikan tujuan audit dipenuhi.
d.
Diskusi tim audit dan komunikasi berkelanjutan
e.
Fokus identifikasi risiko yang relevan
f.
Evaluasi cerdas tanggapan manajemen atas risiko
g.
Profesional Judgment dalam penerimaan klien, develop
audit strategy, materiality, develop analytic procedure dan pertimbangan
audit khusus yang diperlukan.
2.
Risk Response
Merancang
dan melaksanakan prosedur audit selanjutnya untuk menanggapi risiko salah saji
material pada tingkat laporan keuangan dan asersi.
a.
Uji Pengendalian/ test of controls
b.
Prosedur Analitikal Substantif
c.
Pendadakan/ Upredictable examination
d.
Management Override
e.
Significant Risks
3.
Reporting
Merumuskan
pendapat berdasarkan bukti yang diperoleh ; membuat dan menerbitkan laporan
yang tepat sesuai kesimpulan audit. Jika semua prosedur sudah dilaksanakan dan
kesimpulan dicapai, maka: Temuan audit
dilaporkan kepada manajemen dan TCWG
Opini audit dirumuskan dan keputusan mengenai redaksi yang tepat untuk laporan auditor dibuat.
Prosedur Analisa dan Analisis Data
1.
ABR
menggunakan prosedur analisa dan analisis data pada beberapa tingkat yang
berbeda (tingkat laporan keuangan,rekening, dan transaksi) dalam audit untuk
mendapatkan bukti-bukti audit
2.
Bisa
memberikan pembuktian audit yang meyakinkan (significant audit assurance)
3.
Bisa
untuk mengidentifikasi area-area mana yang perlu pemeriksaan lebih lanjut.
4.
Kerjasama
tim sangat membantu dalam menghasilkan audit yang efektif dan efisien.
5.
Kerjasama
tim berkontribusi pada anggota tim untuk dapat mencapai prestasi tertinggi.
6.
Pembangunan
ide-ide dan value yaitu melihat pada resiko bisnis untuk mengurangi resiko
audit
dan pada saat yang
sama, ABR memungkinkan untuk memberikan nilai tambah kepada klien dengan
mengidentifikasi usulan-usulan untuk memperbaiki manajemen resiko bisinis.
BAB
III
KESIMPULAN
Peranan Internal Auditor dengan fokus utama pengendalian atau
control pada perusahaan saat ini sudah tidak memadai lagi. Kelemahan utama yang
muncul adalah perencanaan audit yang tidak efektif dikaitkan dengan pencapaian
misi perusahaan.
Umumnya perencanaan audit disusun tidak melalui suatu basis
yang memadai, melainkan hanya berdasarkan penilaian subyektif belaka. Kerap
terjadi auditee yang berisiko tinggi justru tidak mendapatkan perhatian penuh
dari internal audit dan sebaliknya, audit justru dilakukan pada auditee yang
relatif kurang berisiko. Oleh karena itu, kegiatan operasional internal audit
belum memberikan nilai tambah yang diharapkan.
Auditor akan
selalu punya resiko audit karena auditor tidak menguji semua transaksi. Oleh
karenanya Auditor harus berusaha untuk menurunkan atau mengurangi resiko audit
sampai tahap cukup rendah untuk diterima (biasanya 5%).
Resiko inheren dan
resiko pengendalian bersifat independen (independently exist) tanpa bisa
dipengaruhi oleh auditor.
Sedangkan
Resiko deteksi terkait dengan prosedur audit yang auditor pilih. Jika auditor
mengubah rangkaian prosedur audit maka otomatis resiko deteksi juga akan ikut
berubah (bisa naik atau turun). Jadi auditor bisa menentukan resiko deteksi dan selanjutnya resiko audit
dengan memilih prosedur audit.
Internal auditor diharapkan mampu melaksanakan audit secara
efektif dan efisien. Sumber daya yang terbatas yang digunakan seharusnya mampu
dikelola sedemikian rupa sehingga tujuan audit yang telah ditetapkan.
Hal ini berarti internal auditor harus mendahulukan pengujian
dan observasi pada aktivitas yang dinilai berisiko tinggi, tidak ‘terjebak’
pada rutinitas dan kegiatan yang kurang berisiko. Juga internal auditor harus
mampu mengidentifikasi risiko-risiko yang dihadapi perusahaan telah cukup
diantisipasi dan dimitigasi oleh perusahaan.
Dengan melakukan audit berbasis risiko, diharapkan para
internal auditor mampu mengatasi kelemahan-kelemahan yang dihadapi terkait
dengan perencanaan tahunan audit dan melaksanakan pengujian-pengujian audit
secara lebih efektif dan efsien.
DAFTAR PUSTAKA
Agoes, Sukrisno (2011). Petunjuk Praktis Pemeriksaan Akuntan oleh
Akuntan Publik. Jakarta : Salemba Empat.
Arens.
Alvin. A. and James. K. Loebbecke. (2000). Auditing an Integrated Approach (8th
edition). Englewood Cliff, New Jersey: Prentice Hall International, Inc.
Tuanakotta,
Theodorus M. 2013. Audit Berbasis ISA. Penerbit Salemba Empat Igedeauditta.wordpress.com
William F. Messier, dan Margareth
Boh. (2003). Auditing and Assurance: A Systematic Approach (3th edition). USA :
McGraw-Hill.
inspektoratbanjar.blogspot.com/2014/04/pks-abr.html
[1]
Agoes, Sukrisno (2011). Petunjuk Praktis Pemeriksaan
Akuntan oleh Akuntan Publik. Jakarta : Salemba Empat hal 1
[2]
Arens. Alvin. A. and James. K.
Loebbecke. (2000). Auditing an Integrated Approach (8th edition). Englewood
Cliff, New Jersey: Prentice Hall International, Inc. hal 9
[3]
William F. Messier, dan Margareth
Boh. (2003). Auditing and Assurance: A Systematic Approach (3th edition). USA :
McGraw-Hill.
[4]http://manajemenhouse.blogspot.com/2014/05/contoh-makalah-manajemen-resiko.html#.VE3Sy9WrvIU diakses pada tanggal 27 Oktober 2014
[5]
http://dailyrudy.wordpress.com/2013/11/03/audit-berbasis-resiko-sesuai-dengan-international-standards-on-auditing/ diakses pada tanggal 27 Oktober 2014
[6]
Ibid diakses
pada tanggal 27 Oktober 2014
[7]
http://dianechristina.wordpress.com/2010/10/22/pemahaman-dasar-praktik-internal-audit-berbasis-risiko-risk-based-audit/
diakses pada tanggal 27 Oktober 2014
[8]
http://www.slideshare.net/igedeauditta/proses-audit-berbasis-risiko-auditing-berbasis-isa
diakses pada tanggal 27 Oktober 2014
[9]
inspektoratbanjar.blogspot.com/2014/04/pks-abr.html diakses pada tanggal 27
Oktober 2014
[10]
http://igedeauditta.wordpress.com/2014/01/03/proses-audit-berbasis-risiko-auditing-berbasis-isa/
diakses pada tanggal 27 Oktober 2014
0 komentar:
Posting Komentar